Ketika
orang lain berkata “kamu repot ya”. Atau berkata “kamu sibuk banget”. Atau
berkata “kamu sekarang kok jarang di kamar?” Atau berkata “kamu sih tadi malam
nggak ikut”. Bahkan jika berkata “kamu kok jadi kayak boneka?”. Itu semua bukan
apa-apa, itu “hanyalah” resiko. Resiko yang pastilah datang ketika kamu
memutuskan sesuatu. Resiko yang pastilah ada sebagai konsekuensi atas amanahmu.
Resiko yang mana kalian tidak bisa kabur dan berpaling darinya, walaupun kalian
sudah berusaha untuk menghindar.
Resiko bukan untuk dihindari. Resiko
bukan untuk ditakuti. Resiko ada untuk dihadapi, ya untuk dihadapi. Resiko
tidak untuk disalahkan. Bukan resiko yang salah. Kalau mau menyalahkan,
salahkan diri kita. Kita yang telah mengambil amanah itu. Amanah yang
mengandung banyak resiko. Resiko yang sering disalahkan. Sekali lagi bukan
resiko yang salah.
Harusnya, ketika kita mengambil suatu
keputusan, entah menerima atau menolak sesuatu, resiko juga harus
dipertimbangkan. Apa yang akan kamu dapat dan apa yang hilang darimu. Apa sisi
positif dan apapula sisi negatif nya. Apa keuntungan dan kerugian yang akan
kamu peroleh. Pastinya semua itu ada. Jika kamu sudah mengambil keputusan, itu
berarti juga mengambil resiko di dalamnya.
Bersabarlah dalam menghadapi resiko itu.
Jika kalian sudah tidak kuat, katakan! Jangan kalian pendam! Pastinya jika
kalian memilih untuk mengatakan atau memendamnya juga ada resikonya. Tapi
pikirkan resiko, manakah yang lebih sedikit resikonya? Dalam kaidah fiqh disebutkan,“jika
ada dua hal yang berisiko, maka ambillah yang paling sedikit resiko diantara
keduanya.”
“Resiko pasti ada, tapi kalau bisa diminimalisir,
kenapa tidak?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar