Minggu, 30 Juni 2013

Resiko Itu Pilihan



Ketika orang lain berkata “kamu repot ya”. Atau berkata “kamu sibuk banget”. Atau berkata “kamu sekarang kok jarang di kamar?” Atau berkata “kamu sih tadi malam nggak ikut”. Bahkan jika berkata “kamu kok jadi kayak boneka?”. Itu semua bukan apa-apa, itu “hanyalah” resiko. Resiko yang pastilah datang ketika kamu memutuskan sesuatu. Resiko yang pastilah ada sebagai konsekuensi atas amanahmu. Resiko yang mana kalian tidak bisa kabur dan berpaling darinya, walaupun kalian sudah berusaha untuk menghindar.
       
        Resiko bukan untuk dihindari. Resiko bukan untuk ditakuti. Resiko ada untuk dihadapi, ya untuk dihadapi. Resiko tidak untuk disalahkan. Bukan resiko yang salah. Kalau mau menyalahkan, salahkan diri kita. Kita yang telah mengambil amanah itu. Amanah yang mengandung banyak resiko. Resiko yang sering disalahkan. Sekali lagi bukan resiko yang salah.

        Harusnya, ketika kita mengambil suatu keputusan, entah menerima atau menolak sesuatu, resiko juga harus dipertimbangkan. Apa yang akan kamu dapat dan apa yang hilang darimu. Apa sisi positif dan apapula sisi negatif nya. Apa keuntungan dan kerugian yang akan kamu peroleh. Pastinya semua itu ada. Jika kamu sudah mengambil keputusan, itu berarti juga mengambil resiko di dalamnya.
       
        Bersabarlah dalam menghadapi resiko itu. Jika kalian sudah tidak kuat, katakan! Jangan kalian pendam! Pastinya jika kalian memilih untuk mengatakan atau memendamnya juga ada resikonya. Tapi pikirkan resiko, manakah yang lebih sedikit resikonya? Dalam kaidah fiqh disebutkan,“jika ada dua hal yang berisiko, maka ambillah yang paling sedikit resiko diantara keduanya.”

“Resiko pasti ada, tapi kalau bisa diminimalisir, kenapa tidak?”

Sang Maha Ajaib



         Matahari bergantian dengan bulan tanpa ada tabrakan, keajaiban. Bernafas setiap detik lancar tanpa ada hambatan, keajainban. Meneteskan air mata dikala sedih, keajaiban. Semut kecil di dalam lubangpun masih mendapat makanan, itu juga keajaiban. Butuh berapa contoh lagi untuk mengistilahkan keajaiban? Jika kalian butuh, masih ada berjuta-juta bahkan bertriliyunan keajaiban yang dapat dijadikan contoh. Jika kalian meminta untuk menyebutkannya. Sesungguhnya pasir dilautan pun masih sedikit untuk menjadi bilangannya.

        Namun, pernahkan kalian berpikir, siapa sesungguhnya pembuat keajaiban-keajaiban itu? Siapa yang dengan sukarela mengatur dan menjaga keajaiban-keajaiban tersebut? Siapa yang dengan gampangnya dapat menghilangkan semua keajaiban? Siapa sesungguhnya dibalik keajaiban-keajaiban yang terjadi? Pastinya Dialah Sang Mahakuasa, Sang Mahaagung, Sang Mahaajaib. Dialah Rabb seluruh alam, Allah S.W.T.

        Masihkah kalian ragu dengan kedahsyatan-Nya? Dialah yang mengganti siang dan malam dengan cekatan. Dialah yang membuatmu bernapas setiap hari. Dialah yang  kelak akan mengakhiri dunia. Segala keajaiban di dunia ini, Dialah
Perancangnya. Segala hal yang menakjubkan, Dialah Pendesainnya. Segala hal luar biasa, Dialah Pemiliknya.

       Allah lah Pengatur hidupmu, membuat garis taqdirmu. Allah lah yang menjodohkanmu, mempertemukanmu dengan belahan jiwamu. Allah lah yang akan mematikanmu, mengambil nyawamu tanpa dapat diduga.

        Sobat, percayalah! Hanya Dia yang memiliki keajaiban. Kawan, sadarlah! Setiap keajaiban yang kau minta akan diturutinya*. Teman, yakinlah! Bahwa Dialah Penguasa diatas segala penguasa. Keajaiban, hanya Dia yang memilikinya. Keajaiban, hannya Dia yang menguasainya. Keajaiban, hanya Dia yang memberikan kepada mereka yang meminta. Betapa ajaibnya Sang Mahaajaib dengan segala keajaiban-Nya.

Sang Sutradara Kehidupan



Apakah kalian suka nonton sinetron, film, atau drama?
Apakah kalian mau menjadi aktor/aktris?
Apakah kalian menyukai ending yang membahagiakan?

          Untuk pertanyaan yang pertama, kalian harus suka menonton sinetron, film , atau drama. Karena sejatinya hidup kita hanyalah sebuah sinetron belaka. Dimana sang sutradara lah yang telah dan akan mengatur semua jalan ceritanya.
          Untuk pertanyaan yang kedua, kalian harus mau menjadi aktor/aktris. Karena sesungguhnya, kalian adalah aktor/aktris yang berperan dalam sinetron hidup kalian. Aktor/ aktris yang hanya bisa menurut pada Sang Sutradara Kehidupan. Kita hanya dapat berusaha untuk menjadi aktor/aktris handal yang nantinya disukai dan disayangi  oleh Sang Sutradara Kehidupan.
          Untuk pertanyaan ketiga, itu terserah kalian. Mau menjawab iya atau tidak, toh kalian juga yang akan menentukannya. Walaupun Sang Sutradara Kehidupan telah membuat alur hidup kita dan Dia juga telah menentukan ending hidup kita, tapi kita masih bisa meminta Sang Sutradara untuk membuat ending yang sesuai dengan apa yang kita mau. Tapi pastinya hanya seorang aktor/aktris handal dan yang disayang Sutradara yang dapat meminta ending dari ceritanya.
          Ending pada akhir sinetron hidup kalian, hanya kalian yang dapat menentukan. Jika kalian menginginkan ending yang buruk, berbuatlah sesukamu, hiraukan segala “lampu merah” yang telah menyala, nikmati saja sinetronmu dengan foya-foya belaka. Jika kalian menginginkan ending yang biasa saja lakukan semua aktingmu juga dengan biasa saja. Tak perlu pikirkan apakah Sang Sutradara bangga atau tidak. Sinetron hidupmu juga hanya akan menjadi sebuah sinetron belaka yang tak membekas bagi penonton.
Namun jika kalian menginginkan ending yang sangat indah, bahagia, dan luar biasa, maka curilah hati Sang Sutradara Kehidupan, lakukanlah apa yang telah Dia perintah, jauhi segala hal yang Dia larang. Berikanlah pekerjaan terbaikmu untuk Sang Sutradara Kehidupan agar Dia lebih menyayangimu, dan kalian pun dapat meminta ending yang indah dan membahagiakan. Ending yang nantinya akan membuat para penonton merasa sedih karena mereka kehilangan sinetron terbaik, karena mereka kehilangan aktor/aktris terbaik yang pernah mereka lihat.

         



Sinetron hidupmu ada di tangan Sang Sutradara Kehidupan,
tapi ending hidupmu ada di tangan kalian sendiri.”

Hidup Kita Berbeda, Kawan!



Iri, pernahkah kalian merasakan rasa ingin menjadi orang lain?  Dengki, pernahkah kalian merasa beruntung sekali orang lain? Sedih, pernahkah kalian merasakan begitu susah hidup ini? Jika kalian menjawab pernah, maka sesungguhnya kalian belum bisa memahami hidup. Hidup, dimana kalianlah yang  akan menentukan bahagia atau sengsara. Hidup, dimana kalianlah yang menjalaninya. Hidup, dimana kalian sebagai aktor utama.
        Kawan, hidup kita berbeda! Dia telah mengatur garis hidup kita masing-masing. Kawan, garis taqdir kita tak sama! Taqdir kita memang tak serupa. Allah telah menuliskan taqdir kita, bahkan sebelum kita dikandung oleh ibunda. Yakinlah bahwa hidupmu, hidup kita akan berujung bahagia. “Sesungguhnya Aku adalah apa yang hambaKu pikirkan”. Itulah salah satu bunyi hadits qudsy.
        Ketahuilah! Bahwa semakin larut malam, semakin gelap alam. Tapi percayalah! Sebentar lagi fajar akan tiba, matahari akan terbit, gelap akan sirna. Pahamilah! Jika kau berada di ujung usahamu dan tiada jalan keluar lainnya. Tapi yakinlah! Allah sedang merencanakan sesuatu ang indah di awal fajarmu.” Sesungguhnya setelah kesusahan akan datang kemudahan 2x”. Arti dari Al-Insyirah : 5&6.
        Dan bagi kalian yang merasa hidup begitu sempurna, sesungguhnya Allah sedang mengujimu. Apakah kalian masih menyembah-Nya? Apakah kalian masih memohon-Nya? Apakah kalian masih mengingat-Nya? Cobaan bukan hanya yang menyedihkan, Kawan. Hartamu, tahtamu, dan putramu juga cobaan. Cobaan yang mungkin kau kira itu bukan sebuah cobaan.
        Dia Mahakuasa, bersiaplah! Jika Dia ingin mengambil milik-Nya kembali. Besabarlah! Jika Dia ingin mengujimu. Dan sadarlah! Itu semua adalah milik-Nya. “Sesungguhnya semua adalah milik Allah dan sesungguhnya semua akan kembali kepada-Nya”. Firman Allah, Al-Baqarah 156.
        Dan bagi kalian yang belum merasa keduanya, berjagalah! Karena salah satu akan datang kepadamu. Telitilah! Mungkin kau tak tahu apakah salah satu diantara mereka telah datang. Waspadalah! Ketika tanda dari salah satu mereka akan datang.